Minggu, 16 Desember 2018

Tip Memperpanjang Umur Drive Shaft (Kokel) pada mobil FWD

Selamat pagi pembaca. Posting kali ini saya ingin mengulas soal penggerak mobil. Secara garis besar, mobil mobil penumpang yang sering kita gunakan terbagi menjadi dua:
  1. Pengerak roda depan (Front Wheel Drive - FWD)
  2. Pengerak roda belakang (Rear Wheel Drive - RWD)
  3. Pengerak semua roda (All Wheel Drive - AWD)


Secara spesifik kali ini saya akan mengulas tentang mobil berpenggerak FWD. Postingan ini juga saya khususkan untuk teman teman dikomunitas yang masih bingung menbedakan antara Tie Rod dan Drive Shaft (Kokel) pada mobil berpenggerak FWD.

Drive Shaft, bahasa abengkelnya "Kokel"

Tie Rod, bahasa bengkelnya "Terod"

Sebelum masuk ke inti pembahasan, saya akan memberikan contoh beberapa mobil di kelas Low MPV yang menggunakan pengerak FWD:

  1. Mitsubishi Xpander
  2. Honda Mobilio
  3. Suzuki Ertiga
  4. Grand Livina
  5. Chevrolet Spin

Sedangkan Low MPV yang masih konsten menggunakan pengerak RWD sampai dengan tahun 2018 adalah Low MPV produksi Daihatsu yaitu Xenia dan Avanza. Untuk brand pendatang baru yang ikutan menerapkan RWD adalah Confero.

Lalu apa untung ruginya menggunakan penggerak FWD? Pertama kita uraikan keuntungannya:
  1. Akselerasi lebih cepat karena penggerak berada di bawah mesin yang merupakan tumpuan beban.
  2. Biaya produksi lebih murah sehingga bisa menekan harga jual mobil baru
  3. Traksi lebih baik ketika berada di jalan licin
  4. Berat komponen lebih ringan

Setelah tahu keuntunganya, kita juga harus faham kelemahannya:
  1. Durability. Lebih cepat rusak dibanding RWD karena rata rata partnya lebih kecil dan roda depan yang dipaksa mendapat tugas ganda yaitu untuk berbelok kanan/kiri dan sebagai penggerak mobil.
  2. Tenaga kurang maksimal saat di tanjakan
  3. Rata rata digunakan untuk mobil beban ringan sampai menengah, tidak cocok diterapkan untuk mobil beban berat dan kendaraan niaga.


Komponen apa yang berperan vital pada roda depan untuk mobil bepenggerak FWD.

  1. Tie Rod sebagai perangkat pembelok roda
  2. Drive Shaft, bahasa bengkelnya "kokel" sebagai pengerak roda
  3. Disc brake dan Kaliper sebagai perangkat pengereman
  4. Suspensi, terdiri dari Shock Breaker dan Spring sebagai perangkat peredam kejut.


Nah, dari penjelasam 4 komponen di atas, saya sekaligus menjawab pertanyaan teman teman komunitas tentang bedanga Tie Rod dan Kokel. Untuk lebih jelasnya silahkan lihat foto di bawah ini

1 : Drive Shaft (Kokel), 2 : Tie Rod. Contoh pada Datsun GO

Berdsarkan pengalaman pribadi dari dua komponen dalam foto di atas, Drive Shaft (kokel) lebih cepat rusak dari pada Tie Rod. Hal ini disebabkan karena tugas Tie Rod lebih ringan, dia hanya bertugas mendorong roda untuk berbelok ke kanan da nke kiri. Tuga tambahanya adalah bergerak naik turun mengikuti gerakan suspensi.

Pada perangkat kaki kaki Drive Shaft adalah komponen yang dipaksa untuk bekerja paling keras.

Sedangkan Drive Shaft bekerja lebih berat, disamping harus bergerak kanan kiri pada porosnya mengikuti Tie Rod, juga bergerak naik turun mengikuti suspensi, ditambah gerak maju mundur menyalurkan tenagan dari Transmisi. Jadi kecimpulan saya meskipun didasarkan dari pengalaman pribadi juga berlandaskan teori semakin berat kerja komponen makan semakin pendek pula durability komponen tersebut.

Namun lagi lagi, panjang pendek unur sebuah komponen juga dipengaruhi dari cara Penggunaan dan Perawatannya. Berikut ini adalah tip yang saya dapat saya bagikan untuk memperpanjang usia Drive Shaft pada mobil Anda.

PERAWATAN:
Lakukan pemeriksaan rutin, jika karet sobek segera ganti karetnya. Karena jika karet sobek semua kotoran termasuk pasir jalan akan masuk ke dalam Drive Shaft dan menjadi partikel ampelas sehingga kokel cepat aus. Sobeknya karet Drive Shaft  juga tidak bisa dihindari karena letaknya berada di posisi yang rawan tersangkut benda lain di jalanan. Segera ganti karetnya jika sudah terlihat sobek atau pelumasnya merembes keluar.

Segera ganti karet jika sudah retak retak yang menyebabkan pelumas merembes seperti ini.

PEMAKAIAN:
  1. Hindari memutar penuh setir sampai mentok ke kiri/kanan karena pada posisi paling patah ini posisi Drive Shirt pada kondisi sangat lemah.
  2. Jika terpaksa memutar setir penuh sampai mentok karena kondisi jalan yang tidak memungkinkan, hindari akselesari mendadak. Berjalanlah pelan dengan akselerasi yang konstan dan stabil sehongga torsi dari transmsi tidak menimbulkan hentakan pada poros roda.
  3. Hindari pemakaian pada jalan yang rusak parah dalam posisi naik terjal dan berkelok. Jika rumah Anda berada di jalan seperti ini, gunakanlah mobil berpenggerak RWD

Demikian astikel singkat saya, semoga membantu Anda yang membutuhkan informasi tentang hal ini. Terima kasih sudah joint dalam blog kami, selamat berakhir pekan dan semoga liburan Anda sekeluarga pada akhir tahun ini menyenangkan. Informasi atau diskusi lebih lanjut dapat menghubungi salah satu admin kami di nomor wa.










Rabu, 24 Januari 2018

Datsun Cross basic body GO+

Saya ucapkan selamat atas launching Datsun Cross pada tanggal 18 Januari 2018. Tiga tahun publik menunggu, akhirnya muncul juga produk masal dari sebuah conceptcar tiga tahun silam. Agar kita tidak lupa, berikut ini saya tampilkan kembali foto Datsun GO Cross yang pertama kali dipamerkan di Tokyo Motor Show 2015. Kemudian ditampilkan lagi di Indonesia saat GIIAS 2016.



Publik terlanjur mempunyai ekspektasi yang tinggi terhadap disain masa depan Datsun (pada masa itu). Dalam benak kami terbayang sebuah compact crossover sejati dengan body baru dan belum pernah ada di Indonesia bahkan di Dunia. Disain stop lamp dengan lekukan yang terlihat dewasa menambah kesan padat pada body bagian belakang dan menyatu dengan disain body secara keseluruhan. Sehingga keseluruhan body Datsun GO Cross Concept (Namanya pada saat itu) tampak atraktif, mewah, dan penuh dengan nuansa futuristik.

Namun kenyataan yang ada adalah sebuah mobil lama (Datsun GO+) yang didandani dengan ubahan pada headlamp, bumper depan-belakang, velg, spion, dan spoiler. Sementara aksesoris minor lain hanya tempelan untuk menjadikanya mirip dengan Datsun GO Cross Concept. Seperti apapun dibuat mirip tetap saja ini adalah sebuah Datsun GO+ yang sudah beredar di jalan raya sejak 2013, sudah 5 tahun dan publik sudah mulai jenuh dengan disainnya. Kebanyakan yang belum punya jenuh dengan disainnya, sebagian yang sudah punya seperti saya sudah mulai jenuh dengan kondisi interiornya yang kurang proper dan sempit. Mungkin karena konsepnya adalah LCGC jadi jok yang tidak proper dan kabin semit seolah menjadi alasan untuk sebuah keterbatasan itu. Namun LCGC lain tidak begitu, LCGC lain benar-benar 7 seater dan orang dewasa bisa duduk layak di dalam kabinnya.

Satu hal yang membanggakan adalah Datsun Cross ini "katanya bukan LCGC", mari kita komparasikan mobil yang "katanya bukan LCGC" ini dengan mobil lain yang jelas-jelas LCGC. Harapan saya yang "katanya bukan LCGC" mendapat point lebih karena pembandingnya hanyalah mobil LCGC.


Mesin

Datsun Cross (BUKAN LCGC) mesin HR12DE, 1.198cc, 3-silinder. Versi transmisi manual 5-percepatan, menghasilkan tenaga 68 PS, namun untuk Cross CVT tenaganya lebih besar 78 PS. Besar torsi semua sama, 104 Nm.

Toyota Calya (ASLI LCGC) mesin 3NR, 1.197 cc dengan 4-silinder. Dilengkapi teknologi Dual VVT-i yang mampu menghasilkan semburan tenaga 88 Ps setiap putaran 6.000 rpm dan mampu mencapai torsi 104 nm pada putaran mesin 3100 Rpm.

Fakta 1 : Mobil LCGC dibekali mesin 4 silinder yang tentunya lebih stabil dan halus. Getaran pada saat mesin idle dan AC dinyalakan tentunya akan lebih lembut dari pada mesin 3 silinder milik Mobil Bukan LCGC).

Disain body
Masalah disain body tidak bisa kita nilai karena bisa bersifat sangat subyektif. Masalah disain berhubungan erat dengan selera jadi sebagus apapun sebuah disain jika tidak sesuai dengan selera seseorang ya bisa dibilang tidak bagus. Begitu pula sebaliknya, sejelek apapun disain sebuah mobil tapi jika sesuai dengan selera seseorang maka bisa dibilang bagus. Jadi, masalah disain saya tidak akan komentari.

Akomodasi:



 Interior Mobil Bukan LCGC kapasitas tempat duduk 5 dewasa +2 anak


Interior Mobil LCGC kapasitas tempat duduk 7 orang dewasa

  1. Jok depan : Relatif sama, tidak saya bahas.
  2. Jok row2 : Mobil LCGC joknya tebal, bisa dilipat 60:40, bisa sliding, space kepala dan kaki layak untuk orang dewasa, ada sabuk pengaman 3 titik untuk 3 orang, ada headrest yang proper untuk 3 orang, kemiringan sandaran bisa disesuaikan. Sementara Mobil yang "katanya bukan LCGC" joknya tipis, tidak bisa dilipat 60:40, kalo mau melipat harus menarik 2 tuas di kanan dan kiri secara bersamaan (sangat merepotkan), tidak bisa sliding, space kepala dan kaki cukup untuk orang dewasa, ada sabuk pengaman 3 titik untuk 2 orang, tidak ada headrest yang proper untuk orang dewasa, kemiringan sandaran tidak bisa disesuaikan.
  3. Jok row3: Mobil LCGC ada headrest yang proper untuk 2 orang, ada sabuk pengaman 3 titik untuk 2 orang, space kepala bisa untuk orang dewasa, space kaki terbatas tapi bisa lebih lega jika penumpang di row2 mau sedikit memajukan kursinya. Sementara di Mobil Bukan LCGC tidak ada headrest sama sekali, tidak ada sabuk pengaman 3 titik, space kepala dan kaki tidak layak untuk orang dewasa. Dan akses untuk keluar masuk harus memaksa semua penumpang di jok row2 turun dari mobil karena jok row2 hanya bisa dilipat secara utuh.

Adjustable headrest selain untuk kenyamanan juga menunjang keselamatan jika terjadi benturan dari belakang.

Ketebalan, disain, opsi pelipatan dan kelengkapan jok Calya lebih manusiawi dibandingkan Cross. Bahkan tuas pengunci pintu terlihat lebih elegant dan aman dari pada tuas kunci Cross yang menonjol ala mobil jaman dulu.

Benigi kondisi jok row3 Cross, siapa yang rela duduk di sini berlama lama?

Fakta 2: Mobil LCGC bisa muat 7 orang dewasa, sementara Mobil Bukan LCGC hanya muat 5 orang dewasa. Itupun posisi duduk headrest dan sabuk pengaman tidak selengkap mobil LCGC. Akses keluar masuk kabin terutama di jok row3 lebih praktis mobil LCGC. Jok lebih tebal mobil LCGC. Dan faktanya memang Mobil LCGC mempunyai kabin lebih lega. Mungkin untuk orang yang mempunyai postur tertentu bisa juga kepalanya montok duduk di jok row3 Calya, tapi biar bagaimanapun tetap lebih manusiawai dibanding kondisi jok dan space Datsun Cross.

Dimensi

Mobil LCGC Calya  panjang 4.070mm, lebar 1.655mm, dan tinggi 1.600mm
Mobil Bukan LCGC Cross panjang 3.995mm, lebar 1.670mm, dan tinggi 1.560mm

Fakta 3 : Calya Mobil LCGC lebih panjang dari pada Cross Mobil Bukan LCGC.



Body lama yang difacelift

Berikutnya mari kita telusuri apa sejatinya Datsun Cross ini. Ternyata bukan mobil yang sama sekali baru, tapi hanya facelift dari Datsun GO+. Berikut foto-foto yang membuktikan bahwa basic body Cross adalah GO+.

Headlamp Datsun GO : Lampu sein posisi di tengah dekat grill.

Headlamp Cross: Headlamp disain baru sudah dilengkapi DRL yang terintegrasi dan HID. Lampu sein pindah ke atas.

Meskipun disain headlamp baru, namum kap mesin masih tetap sama, fender kanan kiri juga tetap sama. Ubahan yang dilakukan pada sektor depan hanya headlamp dan bumper. Aksesoris lain berupa grill dan foglamp semua melekat di bumper, jadi jika bumpernya saja diganti maka akan langsung dapat semua dan tampilan GO+ langsung berubah menyerupai Datsun GO Cross Concept tiga tahun lalu itu. Lagi lagi hanya menyerupai, basic mobilnya tetap datsun GO+ yang LCGC itu.

Kiri Datsun Cross - Kanan Datsun GO Cross Concept

Dari potongan foto di atas terlihat jelas bahwa GO Cross berusaha menciptakan bentuk headlamp dan bumper depan yang menyerupai mobil konsepnya namun dibangun dari body Datsun GO+. Pada foto kanan terlihat kap mesin mobil konsep menyatu dari belakang sampai menyentuh gril. Namun pada foto kiri kap mesin terlihat terpotong pada bagian atas headlamp kemudian disambung dengan panel plastik yang menghubungkannya sampai ke grill. Mengapa harus disambung dengan panel plastik? Karena kap mesin dari GO+ yang apa adanya kemudian dipaksa menyatu dengan gril depan model baru yang menyatu dengan bumper. Headlamp meskipun sepintas sama namun berbeda, kita lihat lebih dekat sudut headlamp yang menempel pada fender. Pada foto kanan (mobil konsep) sudutnya tajam di atas, kemudian  sudut bawah sedikit landai. Tapi pada foto kiri headlamp terpaksa harus mengikuti lekukan fender GO+ sehingga sudut atas lebih landai, kebalikannya sudut bawah lebih tajam kalau dibandingkan dengan foto kanan. Dari sini terlihat jelas bahwa fender ini juga menggunakan fender GO+.

Gambar atas Datsun GO+, gambar bawah Datsun Cross.
Mari kita lihat dengan seksama, untuk membuktikan bahwa body Datsun Cross sebenarnya adalah Datsun GO+ yang diganti warna. Sengaja saya ambilkan gambar GO+ yang sudah diganti velg lebih besar untuk mendapatkan postur tinggi dan Ground Clearance yang sama.

  1. Bentuk roof panel sama, hanya ditambahkan roofrail dan antena radio.
  2. Bentuk kaca depan sama, bahkan sampai wiper dan kap mesin juga sama.
  3. Fender depan sama, hanya ditambah tempelan overfender plastik warna hitam.
  4. Pintu bagasi sama,hanya beda di spoiler, tambahan wiper dan lubang kunci.
  5. Pintu depan sama, hanya beda bentuk spion
  6. Pintu belakang sama.
  7. Stoplamp sama, tidak diubah sedikitpun.
  8. Panel kaca pintu depan dan pintu belakang sama.
  9. Kaca samping paling belakang sama.
  10. Fender belakang dan tutup bensin sama, hanya ditambah overfender plastik warna hitam.
  11. Panel body bawah pintu antara fender depan dan belakang sama, hanya ditambah tempelan bodymolding dan underguard dari plastik.
  12. Ground Clearance? tinggal ganti velg dan ban berukuran sama dengan yang dipakai Cross maka GO+ lama Anda juga akan bertambah tinggi.
Dengan body yang sama maka ruang kabin juga masih sama sempitnya dengan Datsun GO+, tempat duduk hanya beda pada jok depan yang sudah terpisah karena penempatan hand break pada posisi normal. Jok row2 dan row3 hanya ganti pelapis dan ada tambahan pelipatan sampai menempel ke jok depan seperti Datsun GO+ India Domestic Market. Jadi bagaimana rasanya duduk di kabin Cross, ya sama sempitnya seperti duduk di kabin Datsun GO+, bahkan panel ACnya juga masih tetap dua panel.

Namun ada hal baru yang perlu diapresiasi. Datsun Cross ini adalah mobil matang yang sudah mempunyai disain dasbord lebih baik, HU doubledin seperti mobil pada umumnya, ada takometer analog yang membuatnya lebih layak sebagai mobil penumpang. Sudah ada switch power window lengkap seperti umumnya mobil jaman sekarang. Tidak perlu modus merogoh ke penumpang sebelah kiri jika ingin menaik turunkan kaca depan sebelah kiri. Dengan kata lain inilah idealnya sebuah mobil, kalo Datsun GO+ yang dulu masih berupa mobil setengah matang.

Datsun Cross juga sudah terdapat transmisi AT sebuah opsi yang memberi pilihan kepada pengguna yang ingin mendapatkan sensasi mengemudi lebih nyaman pada saat jalan macet.

Untuk fitur lain seperti Vehicle Dynamic Control (VDC), ABS, EBD with BA, traction control, dan brake-limited slip differential (B-LSD) saya tidak tertarik untuk berkomentar. Karena menurut saya sebuah mobil yang posisi duduknya saja belum proper buat apa ditambahi dengan fitur canggih?

Datsun mungkin punya pertimbangan lain, tapi konsumen juga berhak memilih. Karena jika menggunakan body All New sebuah Datsun Cross dari segi harga akan bersaing dengan Suzuki S Cross, HRV, TraX, dan Juke. Saya sudah bisa bayangkan bagaimana serapan marketnya jika sebuah merk yang lama mati, dan baru hidup kembali 5 tahun terakhir dengan pruduk LCGC yang masih perlu banyak perbaikan di sana sini dipaksa bersaing dengan merk sekelas Honda, Nissan, Chevrolet, dan Suzuki. Untuk itu "mungkin" Datsun berusaha mengambil segmen bawahnya pada kisaan harga diatas LCGC namun tetapdi bawah 200jt.

Pada harga ini pesaingnya adalah Confero dan Suzuki Ignis. Toyota Etios Valco, Mitsubishi Mirage, Daihatsu Sirion juga di rentang harga yang mirip, Toyota Calya meskipun LCGC tetap berpotensi menjadi penghambat Datsun Cross karena dimensinya kabin lebih besar, kabin lebih lapang, dan mesin sudah 4-silinder. Jika saya harus memilih pada kisaran harga tersebut maka secara kualitas produk Confero adalah yang pertama kali saya pertimbangkan. Untuk Ignis, Valco, dan Mirage saya coret dari pilihan karena secara pribadi saya kurang suka mobil yang hanya 2 baris tempat duduk. Sirion disain bagian depan bagus, dan built in quality juga bagus, namun saya kurang pede menggunakan merk itu karena opini yang berkembang di masyarakat Daihatsu adalah low-end dari Toyota. Confero akhirnya juga saya coret dari daftar pilihan karena saya lebih percaya produk Jepang.

Pilihannya tinggal 2, yaitu Calya atau Cross. Jika saya mengutamakan kenyamanan dan kelegaan kabin saya akan pilih Calya. Namun jika saya mengutamakan disain body ya saya akan pilih Cross. Terakhir mari kita serahkan pada mekanisme pasar, dan kita tunggu pencapaian penjualan Datsun Cross pada tahun pertama, kedua, dan ketiga. Khusus untuk pencapaian penjualan saya pegang Calya, meskipun LCGC tapi dia adalah keturunan Toyota.

Demikian uraian saya, semua tulisan di atas selain fakta yang bisa dibuktikan dengan foto dan dimensi secara ukuran numerik adalah opini pribadi dan semua orang berhak untuk mempunyai pendapat berbeda. Terima kasih.


Rabu, 03 Januari 2018

All New Rush 2018


Beberpa waktu yang lalu sebuah ATPM mengumumkan akan melaunching produk baru, yaitu Rush generasi ke 3. Berita baiknya, produk baru itu tidak akan naik terlalu banyak dari Rush generasi 2. MAksimal kenaikannya hanya 3jt-an saja.

Sekarang Rush baru sudah resmi bis dipesan, dan pricelist 2018 sudah dipublikasi di beberapa web otomotif maupun web resmi Astra. Berikut kutipan price list Toyota Rush yang kami peroleh dari beberapa sumber.

Rush Lama (Generasi 2)

Rush 1.5 TRD Sportivo Ultimo A/T 267.850.000

Rush G 1.5 M/T 239.900.000


Rush baru (Generasi 3)

Rush 1.5 TRD A/T: Rp261.300.000

Rush 1.5 G M/T: Rp239.900.000

Jika kita cermati kutipan price list di atas, terlihat harga Rush baru justru lebih murah dari Rush Generasi 2. Ada apa dengan TAM ? Apa yang terjadi dengan resale value Rush Generasi 2 ?


Ini adalah wujud All New Rush 2018. Bagaimana menurut Anda ? Kita bicara disain aja, karena jika kita bicara fitur sudah banyak kompetitor dengan fitur lebih canggih. Coba kita lihat disain front grill yang melebar ke bawah itu. Mengingatkan saya pada disain grill Innova masa lalu yang menurut mengamat otomotif dibilang...... ya sudahlah.

Kita lihat bentuk grilnya, mirip mirip kan? Itu sih sah sah saja menyerupai sesama produknya sendiri. Yang sangat menganggu di mata saya kenapa miripnya justru sama disain 3 tahun lalu. Jadi kesimpulan saya Rush baru adalah mobil baru dengan aura disain masa lalu. Silahkan simpulkan sendiri, yang jelas saya tidak pernah bilang jelek.

Lucunya, beberapa pengamat sering mengkomparasikan mobil ini dengan mobil lain yang sudah jelas jelas tidak sekelas. Kita pasti sering baca artikel atau video utube dengan judul Rush vs Xpander. Tush ini kan Mini SUV atau Crossover sedangkan Xpander adalah Low MPV. Ya memang sih membandingkan sah sah saja. Karena memang di kelas Low MPV Xpander sulit mencari kompetitor yang sepadan. Mobilio, Grand Livina, Ertiga, Spin dari sisi kelas memang sama sama Low MPV tapi dari segi disain body seperti beda generasi. Apalagi Avanza dan Xenia, dari segi apapun jelas ketinggalan jauh jika dikomparasikan dengan Xpander.


Harga Mitsubishi Xpander Ultimate A/T RP 245,350,000

Harga Mitsubishi Xpander GLX M/T RP 189,050,000

Kembali lagi kita ngomongin body dan body. Kerena sudah banyak ahli yang ngomongon mesin dan fitur. Jika dibandingkan dengan Xpander, All New Rush semakin tidak sepadan. Rush disain bodynya ya gitu gitu saja selayaknya mobil jaman sekarang, malah ada nuansa masa lalunya. Tapi disan body Xpander seperti molompat jauh ke masa depan.

Buat Anda yang merasa sudah inden Xpander tapi unitnya tidak datang datang bersabarlah. Jangan sampai karena telalu lama menunggu Anda beralih ke Merk lain yang unitnya lebih ready. Karena kepuasan menggunakan mobil disain masa depan itu tak tergantikan, dan penyesalan itu selalu datang belakangan.

Selasa, 12 Desember 2017

Ertiga Diesel Hybrid

Apa hebatnya Ertiga Diesel ?

Dia adalah satu satunya Low MPV di Indonesia yang mempunyai 3 keunggulan sekaligus :
  1. Mesin diesel kecil dengan Torsi maksimal
  2. Mesin berTurbo
  3. Mesin Hybrid

Mungkin ada Low MPV lain yang bermesin diesel kecil pernah dipasarkan di Indonesia yaitu Chevrolet SPIN. Namun baik tenaga mesin (HP) maupun torsinya (NM) tidak sebesar Ertiga Diesel. Walaupun sudah diesel, Spin belum Hybrid, karena dalam benak konsumen tanah air sebuah mobil bertehnologi Hybrid pasti mahal. Inilah hebatnya Ertiga Diesel Hybrid, mobil Hybrid dengan harga setara dengan Low MPV lain yang bermesin bensin.


Chevrolet Spin Diesel
Kapasitas Mesin 1.300cc
Tenaga 75 PS pada 4.000 RPM
Torsi 190 pada 1.750 RPM

Suzuki Ertiga Diesel Hybrid
Kapasitas Mesin 1.300cc
Tenaga 89 PS pada 4.000 RPM
Torsi 200 pada 1.750 RPM

Konsumsi Bahan Bakar Ertiga Diesel Hybrid

Dalam Kota : 18 KM/L
Luar Kota : 22 KM/L



Cara Kerja Mesin Ertiga Diesel Hybrid


Rahasianya adalah pada  tehnologi Integrated Starter Generator (ISG) yang menyatukan funfsi Aternator dan Motor Starter pada mobil konfensional. Pada saat berkendara secara normal, mesin akan bekerja dan unit ISG mengisi baterai berkapasitas lebih besar dari mobil konfensional. Teknologi ISG ini memiliki dua fungsi berbeda. Pertama sebagai generator untuk menangkap dan menyimpan energi ke baterai saat kendaraan dalam fase deselerasi (perlambatan).


Kedua sebagai motor yang akan memberikan tambahan daya ke mesin saat akselerasi.


Efek yang ditimbulkan adalah getaran mesin lebih halus pada saat restart dan konsumsi BBM pun semakin irit dibanding mesin konvensional. Mesin Diesel yang minim getaran, Hybrid dengan harga sangat reasoneble, sangat menjawab keinginan konsumen di Indonesia. Teknologi sederhana seperti ini sebenarnya bisa diaplikasi pada mobil lain, namun lagi lagi Suzuki adalah pioner. Satu kata penutup dari saya, "Cerdas..."

Selasa, 10 Oktober 2017

Mengapa Innova Diesel AT lebih istimewa dibanding yang bertransmisi MT

Fitur ABS (Anti-lock Braking System) menjadikan Innova Type V lebih proper dipakai harian maupun perjalanan luar kota.


Bagi pengguna Innova D4D bertransmisi manual jika merasa tarikan awal kurang responsif jangan bersedih. Karena memang seperti itulah adanya, dan disyukuri saja. Faktanya torsi Innova Diesel manual memang lebih rendah dari versi maticnya. Innova Diesel AT mendapat perlakuan khusus dibandingkan versi transmisi manual. Meski mesin sama, begitu juga tenaga yang dihasilkan, torsi Innova Diesel transmisi automatic lebih besar. Jika pada Innova Diesel manual torsinya 200 Nm dicapai pada 1.400-3.200 rpm, maka pada transmisi automatic torsinya 260 pada 1.600-2.400 rpm. 


Innova AT mempunyai interior yang lebih rapi dibandingkan versi MT

Innova Diesel 2.500 cc dapat menghasilkan tenaga 102HP pada 3.600 RPM untuk transmisi manual cenderung underpower. Tetapi PT.TAM memperbaiki transmisi meracik AT untuk menghasilkan torsi yang lebih besar sehingga akselesari lebih responsif. Dengan konsep Global Quality Product, Kijang Innova memiliki akomodasi baik penumpang maupun barang terlapang. Karena dimensi bodi yang besar (P x L x t = 4.580 x 1.770 x 1.745 mm), membuat ruang interior luas.

Fitur Multi information display (MID) membuat Innova Type V lebih informatif.

Jok dan dor trim berahan suede warna beige membuat cita rasa Innova Type V sangat berbeda dengan type dibawahnya.


Seperti kebanyakan mobil Toyota pada umumnya, Innova generasi 1, facelift, dan GNKI termasuk minim fitur. Innova yang mempunyai kelengkapan cukup baik hanya ada di Type V (Type tertinggi pada jamannya). Untuk itu sekedar saran, jika menginginkan innova yang mempunyai fitur cukup baik dan kabin lebih layak pilihlah yang type V. Namun lebih bijak jika pilihan mobil disesuaikan dengan budget yang tersedia.

Perpaduan warna interior Black - Dark Grey - Beige - Wooden Panel - dan sedikit sentuhan Chroome pada handle membuatnya tampil lebih elegan.


Fitur Innova V Diesel AT

  • Wood leather Steering wheel
  • Parking Sensor
  • Outher Mirror with turning signal lamp
  • 15″ Alloy wheel design
  • Side body moulding
  • Wood Instrument panel
  • Frontpersonal lamp with Sunglass holder
  • Digital Auto Air conditoner
  • ABS (Anti-lock braking system)
  • Multi information display (MID)
  • 12 Volt power outlet
  • Printed glass antena
  • Rear Defogger
  • High Mount Stop lamp
  • Automatic Gate type transmission
  • Shift position indicator



Jumat, 28 Juli 2017

Mitsubishi EXPANDER

Small MPV bergaya SUV yang resmi diperkenalkan secara global kepada publik pada Senin (24/7/2017) tersebut bakal menjadi pesaing paling berat bagi beberapa MPV lain, sebut saja seperti Grand Livina, Ertiga, Mobilio Avanza, dan kembarannya satu lagi yang mirip tapi beda harga.

Detil lekuk bodynya seperti mobil yang datang dari masa depan.

Lekuk body bagian bagian belakang sangat menawan, coba bandingkan dengan mobil yang harganya lebih mahal seperti All New Pajero atau All New Innova. Jangan bandingkan dengan Low MPV dikelasnya, karena dari segi disain memang tidak sebanding.

Sebelum MPV Mitsubishi ini hadir di bumi Indonesia disain dan fitur terbaik di mata konsumen yang benar benar mengerti kualitas mobil masih dipegang Mobilio, Grand Livina, dan Ertiga. Tetapi jika dibandingkan dengan kompetitornya Expander terlihat paling modern dan paling bernuansa masa depan. Apalagi jika dibandingkan dengan Small MPV paling laris yang itu, jika parkir sebelahan pasti si itu langsung terlihat jadul seperti beda generasi, beda kualitas, ya intinya seperti beda kelas.


Sebenarnya nama Expander inipun belum resmi, karena pihak ATPM belum menempelkan emblem nama apapun pada Small MPV paling menawan ini. Sebelum versi masalnya dilaunching, Expander sudah diperkenalkan berupa mobil konsep dengan nama Mitsubishi XM Concept.






Jika Small MPV paling laris itu bertahan dengan konsep lamanya yaitu mobil kecil serbaguna yang berpengerak reda belakang, sebaliknya Mobilio, Grand Livina, dan Ertiga berpengerak roda depan dengan disain body menyerupai sebuat Estate (Mobilio dan Grand Livina) dan Ertiga dengan ground clearance rendah untuk mempertahankan stabilitas body. Sangat berbeda dengan Mitsubishi Expander yang membuat sebuah konsep MPV menyerupai SUV atau lazim disebut Cross Over MPV. Melihat Expander yang begitu memukau, saya jadi tertarik membandingkan dimensinya dengan para kompetitor.

EXPANDER 4.475 x 1.750 x 1.700 mm.
GRAND LIVINA 4.485 x 1.700 x 1.650 mm.
MOBILIO 4.386 x 1.683 x  1.603 mm.
ERTIGA 4.265 x 1.695 x 1.685 mm
AVANZA 4.190 x 1.660 x 1.695 mm


Dari data di atas kertas, terbukti memang Expander adalah Small MPV yang paling lebar dan paling tinggi di kelasnya. Memang bukan yang paling panjang karena tetap Grand Livina yang paling panjang di kelasnya.



Meskipun awalnya Xpander dihadirkan untuk mengisi segmen Low MPV di kelas Grand Livina, Ertiga, Mobilio Avanza. Namun dengan disain body seperti ini BRV, RUSH,  juga harus siap-siap tergeser.

Jika selama ini Small MPV paling laris itu selalu mencatat penjualan tertinggi di Indonesia, itu menurut pendapat saya bukan karena kualitasnya nomor satu. Karena banyak kompetitor lain dengan kualitas yang lebih bagus. Mungkin mobil itu berhasil mendisain sebuah mobil yang paling memenuhi selera sebagian besar masyarakan Indonesia. Terbukti jika mobil tersebut di ekspor ke nagara lain tidak pernah membukukan penjualan yang fantastis seperti di Indonesia. 

Faktor lain yang membuat Small MPV paling laris itu selalu mencatat angka penjualan yang bagus karena brand tersebut mampu menciptakan dan menjaga resale value. Karena sebagian masyarakan kita motif membeli mobilnya adalah karena faktor mencari aman atas uangnya sehingga jika suatu saat mobil tersebut dijual mereka tidak kehilangan nilai uang terlalu banyak.

Namun sekali lagi untuk orang yang benar benar mengerti kualitas mobil secara keseluruhan, Small MPV paling laris itu belum mampu memenuhi standar mereka. Jika kita bicara disain dan fitur memang Small MPV paling laris itu bukan yang paling buruk, tetapi terlalu banyak yang lebih baik di kelasnya.

Rabu, 12 Juli 2017

Menghitung Konversi MID

Banyak teman yang bertanya tentang pengantian ukuran velg dan ban. Rata-rata mereka masih bingung mengukur berapa perubahan diameter roda setelah ganti velg dengan ukuran yang lebih besar. Karena pengantian ukuran velg dan ban bisa mengakibatkan perubah tinggi mobil secara keseluruhan, merubah jarak ban ke fender, radius putar per km yang akan mempengaruhi akurasi pembacaan panel digital pada speedometer mobil. Berikut ini postingan lama saya, tapi karena banyak yang menanyakan saya repost di sini.


Ban Mobil adalah komponen yang berperan sangat penting bagi keselamatan karena fungsinya menghubungkan tenaga putar dari mesin yang disalurkan pada roda (velg) dengan landasan yang harus menghasilkan traksi untuk menjaga laju mobil tetap dalam pengendalian. Ban yang terlalu keras tentunya akan mengurangi traksi ke aspal, namun ban yang terlalu lunak juga mengganggu kestabilan mobil secara keseluruhan. Jadi kekerasan tekanan angin dan kekenyalan bahan karetnya harus pas untuk menjaga fungsi dan durabilitas yang sempurna. Oke cukup sampai disini membahas tentang tekanan dan kekenyalan ban, langsung saja kembali ke topik uaitu mengukur tinggi ban untuk Menghitung Konversi MID pada mobil yang sudah menggunakan Velg dab Ban non standar.

Diketahui
L = Lebar tapak ban
T = Tinggi ban
R = Diameter velg
K = Konversi dari inchi ke cm
D = Diameter ban (Tinggi ban)
Π = 3.14

asumsi ukuran ban 215/45/17

Menghitung tinggi ban
Formula = (((Lx0.1)x(T%))x2)+(RxK)
=(((215x0.1)x(45%))x2)+(17x2.54)
= 62.53cm

Meghitung keliling Lingkaran Ban
Formula = DxΠ
= 62.53x3.14
= 196.34cm 

Manfaat
1. Mencari tinggi ban jika ingin mengganti ukuran ban
2. Menghitung tinggi mobil jika ingin mengganti ukuran ban
3. Menentukan ukuran ban yang sesuai jika ban cadangan mengunakan ukuran velg lebih kecil
4. Menghitung prosentase konversi ODO, TRIP, AVG, jika ban sudah diganti dengan ukuran yang lebih besar
5. Mengukur jarak ban dengan vender jika ingin mengganti ukuran ban
6. Menentukan kombinasi ukuran velg dan ban yang ideal


Keterangan:
Secara garis besar menghitung tinggi ban dilakukan dengan menentukan tinggi ban dikali 2 (Pada gambar A + B) ditambah dengan diameter velg (yang sudah dikenversi dalam satuan cm)